Tak Kenal maka tak….

Posted by: ms on Tuesday, April 1st, 2008

Walaupun saya tidak melengkapi kalimat di atas dengan sebuah kata, saya yakin dalam hati anda sudah menambahkan sendiri kata “sayang”. Jadilah kalimatnya berbunyi “tak kenal maka tak sayang”. Lha, apa hubungannya? Ini lagi membahas tentang apa?

Sahabat, hari ini saya jadi tertarik untuk menulis tentang topik ini. Ketika kita sayang pada seseorang misalnya, tidak harus dengan materi. Sebuah senyuman tulus atau tatapan mata dapat menunjukkan perasaan itu. Jadi cakupan sayang sebenarnya lebih dari yang kita sadari selama ini.

Apakah gampang menyayangi sesuatu kalau belum kita ketahui (baca: kenal)? Mungkin saja “ya”. Tapi akan lebih jauh bisa kita berikan apabila kita mengenalinya.

Dalam keseharian, banyak orang yang begitu sayang pada kepunyaan mereka seperti uang, mobil, komputer dan barang-barang lainnya. Tidak ada yang salah dan aneh dengan semua itu memang. Kita sayang sama mereka karena memberi kita manfaat atau mempermudah kehidupan kita.

Karena menjadi milik pribadi, barang-barang itu begitu kita kenal. Kalau komputer di rumah kena serangan virus, langsung bisa kita install antivirus dan akhirnya komputer berfungsi normal lagi. Kalau mobil lagi “ngambek”, kita segera membawanya ke bengkel atau malah bisa diperbaiki sendiri. Begitu juga dengan properti-properti kita lainnya, kita begitu peduli dan kenal.

Sekali lagi tidak ada yang salah bin aneh dengan semua itu.

Namun ada satu hal yang sering kita lupakan secara sengaja atau tidak. Kita kadang lupa akan kepunyaan kita yang paling esensial, yaitu diri kita ini seutuhnya. Lahir dan bathin. Sekali lagi biar lebih mantap dan ingat, lahir dan bathin.

Saya yakin kebanyakan sudah memberikan rasa kasih sayang yang cukup untuk “si lahir”, tapi mungkin belum untuk “si bathin”.

Terkadang saking dekatnya (baca : bersatu) dengan diri kita, kita jadi terlupa untuk memberi kasih sayang untuk hak milik kita ini. Kita lupa kita punya diri kita sendiri. Ketika “virus” menyerang diri ini, kita cenderung menyerah dan tidak menggunakan “antivirus” yang sejatinya telah kita punya. Kita sesungguhnya bisa menyembuhkan diri kita sendiri, secara ilmiah kekuatan itu disebut antibodi. Sayang inilah yang sering terlupakan. Ketika kita kena penyakit lahir, kita lupa untuk meyakini kekuatan diri kita. Mungkin kita sudah mengetahui, tapi belum meyakini.

Begitu juga ketika serangan terjadi terhadap bathin kita. Kita sesungguhnya mempunyai kekuatan untuk mengendalikan dan mengontrol serangan itu. Kekuatan hati dan pikiran sejatinya merupakan kekuatan luar biasa, kekuatan Tuhan yang terkadang masih kita lupakan.

Apakah anda pernah mendengar cerita seseorang yang kena serangan jantung dan kata dokter tidak bisa disembuhkan lagi? Tetapi nyatanya bisa sehat kembali. Bung Nunu yang saya hormati, dulunya divonis mandul oleh dokter ahli yang menangani. Namun dengan berbekal kekuatan Tuhan (kekuatan kepercayaan), beliau akhirnya memiliki seorang putra yang disayang. Dan masih banyak kejadian-kejadian yang sering kita sebut “ajaib”. Itu bukan ajaib tapi biasa saja. Sejatinya tiap insan bisa mengalaminya, jika menginginkan dan mempercayainya.

Begitulah Tuhan membuat “rahasia” dalam hidup ini. Sekali anda mempercayai kekuatan itu ada, kemampuan itu bisa. Anda akan ditunjukkan kepada sebuah kekuatan yang bisa mengubah hidup anda. Tidak ada yang tidak mungkin untuk Tuhan, bukan?

Jadi mari belajar mengenal diri sendiri, potensi kita, kekuatan kita (kekuatan Tuhan), kita akan ditunjukkan pada kehidupan yang bahagia dan penuh berkah. Bukankah itu yang kita inginkan? Kenalilah diri sahabat lebih dari mengenali properti yang lain. Dengan mengenali diri kita dan menjadikan sahabatnya, kita tentu akan tahu cara menyayangi “dia”.

Topics: Learning

 

Berikan Komentar anda